Allan Nairn & Kudeta

Pasca kekalahan Ahok di putaran kedua Pilkada DKI, sebuah artikel sepertinya sukses menjadi semacam penyejuk hati untuk pendukung Ahok. Allan Nairn, jurnalis investigasi yang namanya masih punya gaung di negeri ini, terutama bagi orang-orang yang ingat kiprah dirinya dijaman pemerintahan Soeharto, merilis hasil investigasinya di hari yang sama dengan pengumuman hasil pilkada DKI.

“TRUMP’S INDONESIAN ALLIES IN BED WITH ISIS-BACKED MILITIA SEEKING TO OUST ELECTED PRESIDENT”

Allan Nairn, The Intercept

Artikel yang sayangnya mempunyai judul ultra-bombastis dan berisi kaitan yang terlalu jauh dan tanpa bukti ini, secara langsung, berdasarkan laporan intelijen yang bocor ketangan Nairn dan wawancara eksklusif dengan Kivlan Zein, menyatakan bahwa tengah ada plot untuk mengkudeta Jokowi dari kursi kepresidenan, dengan menggunakan kasus penistaan agama Ahok sebagai pintu masuk. Alasan kudeta ini karena terdapat beberapa golongan yang tidak menyukai usaha Jokowi membuat simposium dan membuka kembali kasus pembantaian orang yang dituduh anggota PKI pada 1965.

Artikel ini dipublikasikan di The Intercept, media yang salah satu editornya adalah Glenn Greenwald, jurnalis yang terkenal karena laporannya tentang Snowden. Dari sini saja bisa disimpulkan bahwa artikel ini bukanlah artikel omong kosong, dan reputasinya bisa dipertaruhkan. Dengan kata lain, investigasi ini terlepas dari kelemahan yang ada didalamnya, bukanlah hoax, atau fake news.

Namun TNI, beberapa hari setelah artikel ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Tirto (media yang saya baru dengar juga eksistensinya), sepertinya dirundung kepanikan. Respon pertama dari Kapuspen TNI Mayjend Wuryanto sepertinya menandakan hal tersebut.

Terhadap apa namanya, itu kok bisa dipublikasikan hal-hal yang sensitif seperti itu.

Mayjend Wuryanto, Kapuspen TNI

Respon TNI yang sepertinya dikejutkan dengan munculnya artikel Allan Nairn sebenarnya cenderung membingungkan. Apabila dinilai berdasarkan data dan fakta yang ada, artikel Allan Nairn sesungguhnya tidak memberitakan banyak hal yang baru, namun hanya mengkonfirmasikan rumor-rumor yang sudah beredar.

Satu-satunya hal menarik yang ada didalam artikel tersebut adalah wawancara eksklusif dengan Kivlan Zein, yang motifnya sangat perlu dipertanyakan. Ada apa sehingga purnawirawan jendral sekelas Kivlan Zein mau menumpahkan begitu banyak informasi pada Allan Nairn, yang nota bene merupakan musuh bebuyutan salah satu teman paling dekat dari Kivlan Zein sendiri, yaitu Prabowo?

Kehadiran Kivlan ditengah-tengah artikel yang menumpahkan begitu banyak tuduhan kepada begitu banyak figur elit; Prabowo, SBY, Fadli Zon, dan banyak figur politik dan sosial lainnya, adalah afirmasi secara tak langsung dari Kivlan tentang kebenaran dari artikel tersebut.

Apakah Kivlan sakit hati, karena ia satu-satunya figur purnawirawan yang namanya terseret dalam kasus makar, dan sampai disebut-sebut ditangkap tangan merencanakan kudeta oleh Polri? Apakah ini caranya menyeret nama-nama besar lain kedalam kasus makar yang belum jelas arahnya, namun bisa panjang dampaknya, terutama setelah munculnya artikel ini.

Belum lagi orang-orang yang disebut terlibat atau secara tak langsung “menyetujui” tindak tanduk gerakan yang ingin menjatuhkan jokowi, termasuk menteri sekelas Hendropriyono, dan Wiranto.

Sekarang, respon orang-orang yang disebut namanya dalam artikel ini akan menentukan seberapa jauh kebenaran dari tuduhan kudeta tersebut. Wiranto, Hendropriyono, bahkan mungkin Prabowo, harus segera membawa Kivlan ke meja hukum, paling tidak atas pencemaran nama baik. Namun kalau yang terjadi justru adalah bentuk lain dari shooting the messenger, yaitu penuntutan dan penghancuran nama baik dan reputasi The Intercept dan Tirto, rasanya Jokowi harus siap-siap mengencangkan kerahnya. Mungkin tuduhan kudeta ini ada benarnya.

Leave a Reply